Assalamu’alaikum
Setelah sekian lama nggak nulis diblog, akhirnya memberanikan diri untuk nulis lagi. Meskipun udah ada beberapa materi yang udah ready, tapi urung untuk dishare.
Oke throwback sedikit, aku mau cerita tentang weekend aku minggu lalu.
Jadi weekend minggu lalu aku full di rumah aja, kegiatan aku cuma tiduran, nonton youtube, bosan, close, buka facebook, close, buka whats app, close, terus buka youtube lagi. Gitu terus sampai lapar, sampai ngantuk. Nggak ada hal yang menarik dan nggak ada hal positif yang aku dapat hari itu. Sedangkan teman-teman aku yang lain sibuk dengan kegiatan organisasinya, kegiatan kampus, seminar, dan hal-hal positif yang mereka senangi.
Sebenarnya aku bisa aja ikut organisasi di kampus supaya ada kegiatan tiap minggunya, tapi aku punya beberapa alasan untuk nggak terlibat organisasi apapun dikampus. Salah satunya karena aku ngerasa kayak ada di dalam kotak sendiri ditengah-tengah mereka, bukan karena aku ngerasa beda, bukan juga karena perlakuan mereka beda, nggak sama
sekali, tapi memang aku ngesara nggak nyambung ada di tengah-tengah mereka.
Akhirnya aku mikir, hal positif apa sih yang bisa aku lakukan dan aku senang ngelakuin itu? Jawaannya ya nulis.
Kenapa tadinya aku bilang takut untuk nulis di blog? Karena makin kesini aku jadi mikir, aku ini siapa sih, nulis pengalaman hidup yang nggak seberapa canggih, nggak menarik sama sekali. Kenapa jadi sok-sok kasih quote ke orang-orang, padahal orang-orang juga udah pada tau.
Cupu sih alasannnya.
Tapi sekarang aku udah buang jauh-jauh pemikiran-pemikiran itu. Aku nggak perduli ada orang yang ngetawain. Aku nggak perduli yang baca cuma satu dua orang, karena tujuan utamaku bukan untuk jadi influencer. Intinya aku senang nulis, karena dengan menulis aku jadi bahagia, aku juga merasa beban aku sedikit berkurang dengan men-share uneg-uneg aku ke kalian yang baca, sekalipun nggak tau kalian siapa. Dengan menulis aku juga merasa melakukan hal yang positif untuk diri aku sendiri.
Intinya lakukan apa saja yang kalian senangi, selagi itu positif. Jangan menciptakan pemikiran-pemikiran yang buat kalian berhenti melakukannya. Karena dengan melakukan sesuatu yang kalian senangi, sudah berdampak positif meskipun hanya untuk diri kalian sendiri. Gimana mau berdampak positif untuk orang banyak, keluarga, agama, dan negara, kalau kalian belum memulai itu untuk diri kalian.
Udah gitu aja
Wassalamu’alaikum
Salam calon penulis!
My Stories
Generasi milenial yang menerima kritik dan saran
Senin, 24 September 2018
Minggu, 25 Maret 2018
Hampir Mati Keracunan
Assalamualaikum
Tadi malam ada kejadian bego yang aku alami, bukan keadaan yang buat aku bego, tapi memang dasarnya aku yang bego. Jadi tadi malam ada kecoa masuk ke kamarku, FYI kecoa adalah salah satu binatang yang paling aku takuti, karena ketakutan akhirnya aku semprot kecoa itu pakai racun serangga sampai racunnya habis. Alhasih kecoanya terbaring lemah, sambil menjerit minta tolong, akhirnya dia mati. Kecoanya mati, tapi aku juga hampir mati karena menghirup racun serangga terlalu banyak. Dampak racun itu buat tangan aku gemetaran, nggak tau sih karena racun atau karena lapar, tapi efek racunnya juga sampai ke kepala. Kepalaku sakit, perutku mual rasanya. Kalau aku tarik nafas rasanya dingin, dingin sekali dan ujung lidahku juga dingin, karena aku makan permen Relaxa, becanda, becanda. Aku juga mulai keringat dingin, mau minta tolong tapi takut disangka lebay. Setiap sudut kamar ku perhatikan dengan seksama, siapa tau ada malaikat pencabut nyawa datang, tapi ternyata nggak ada, di bawah ranjang juga nggak ada. Saat itu aku hanya terus berdo’a, dan difikiranku kalau aku mati sekarang pasti Mamak terpukul sekali. Aku juga sempat berfikir kalau aku mati mungkin aku disangka bunuh diri pakai racun serangga. Tapi, beberapa jam kemudian akhirnya efek-efeknya satu persatu hilang. Alhamdulillah.
Jadi, pelajaran yang bisa dipetik dari cerita diatas adalah jangan pakai racun serangga terlalu banyak kalau tidak mau mati dengan konyol. Jangan!
Beberapa hari yang lalu juga, waktu bersih-bersih rumah pasca banjir, aku terpeleset karena menghindari kepiting yang sebenarnya kepiting itu nggak ada. Ya, aku memang bego. Sebelumnya memang ada kepiting yang masuk ke rumah karena kebawa banjir dan bikin aku parno, makanya waktu ada yang nyentuh kakiku, aku kira itu kepiting yang mau nyapit. Waktu aku terpeleset, lututku bunyi “krekk” dan sakitnya bukan main. Ketika dicek sama tanteku, katanya sarafnya cuma terjepit, jadi nggak apa-apa, tapi tetap aja beberapa hari aku pincang gara-gara kepiting. Bukan deng, karena aku bego.
Untung jatuhnya dilantai biasa, coba kalau di lantai dua dekat tangga, apa nggak patah kaki saya. Sudah patah, keracunan racun serangga lagi.
Pada dasarnya aku memang orang yang kalau takut sama satu hal, pasti over. Kalau lihat kecoa, aku harus pastikan dia mati di depan mataku. Kalau ada anjing di tengah jalan aku rela lewat parit, ini lebay sih. Kalau Bapakku marah, dia belum ngomong aku sudah nangis duluan. Padahal resiko-resikonya ya paling ditempelin sama kecoa, digigit sama anjing, dan diceramahin bapak.
Ini adalah konten ter-tidak-penting sepanjang sejarah, tapi terima kasih sudah baca.
Ingat, jangan semprot racun serangga terlalu banyak!
Salam calon penulis!
Wassalamualaikum.
Tadi malam ada kejadian bego yang aku alami, bukan keadaan yang buat aku bego, tapi memang dasarnya aku yang bego. Jadi tadi malam ada kecoa masuk ke kamarku, FYI kecoa adalah salah satu binatang yang paling aku takuti, karena ketakutan akhirnya aku semprot kecoa itu pakai racun serangga sampai racunnya habis. Alhasih kecoanya terbaring lemah, sambil menjerit minta tolong, akhirnya dia mati. Kecoanya mati, tapi aku juga hampir mati karena menghirup racun serangga terlalu banyak. Dampak racun itu buat tangan aku gemetaran, nggak tau sih karena racun atau karena lapar, tapi efek racunnya juga sampai ke kepala. Kepalaku sakit, perutku mual rasanya. Kalau aku tarik nafas rasanya dingin, dingin sekali dan ujung lidahku juga dingin, karena aku makan permen Relaxa, becanda, becanda. Aku juga mulai keringat dingin, mau minta tolong tapi takut disangka lebay. Setiap sudut kamar ku perhatikan dengan seksama, siapa tau ada malaikat pencabut nyawa datang, tapi ternyata nggak ada, di bawah ranjang juga nggak ada. Saat itu aku hanya terus berdo’a, dan difikiranku kalau aku mati sekarang pasti Mamak terpukul sekali. Aku juga sempat berfikir kalau aku mati mungkin aku disangka bunuh diri pakai racun serangga. Tapi, beberapa jam kemudian akhirnya efek-efeknya satu persatu hilang. Alhamdulillah.
Jadi, pelajaran yang bisa dipetik dari cerita diatas adalah jangan pakai racun serangga terlalu banyak kalau tidak mau mati dengan konyol. Jangan!
![]() |
| Ini bukan iklan |
Untung jatuhnya dilantai biasa, coba kalau di lantai dua dekat tangga, apa nggak patah kaki saya. Sudah patah, keracunan racun serangga lagi.
Pada dasarnya aku memang orang yang kalau takut sama satu hal, pasti over. Kalau lihat kecoa, aku harus pastikan dia mati di depan mataku. Kalau ada anjing di tengah jalan aku rela lewat parit, ini lebay sih. Kalau Bapakku marah, dia belum ngomong aku sudah nangis duluan. Padahal resiko-resikonya ya paling ditempelin sama kecoa, digigit sama anjing, dan diceramahin bapak.
Ini adalah konten ter-tidak-penting sepanjang sejarah, tapi terima kasih sudah baca.
Ingat, jangan semprot racun serangga terlalu banyak!
Salam calon penulis!
Wassalamualaikum.
Sabtu, 24 Maret 2018
Didikan Ibu yang Tamat SD
Assalamualaikum
Seperti judulnya, latar belakang pendidikan Mamaku hanya tamat SD, tapi beliau punya cara unik dalam mendidik, yaitu selalu menumbuhkan kesadaran. Waktu aku masih SD, Mamak nggak pernah suruh aku belajar. Kenapa? Karena kata beliau “Kalau kamu nggak belajar yang gagal kamu sendiri, yang bodoh ya kamu sendiri, yang kecewa kamu juga yang ngerasain.” Terdengar cuek, seperti tak perduli dengan masa depan anaknya. Tapi, satu hal yang harus kalian tahu, kata-kata itu yang membuat aku selalu dapat peringkat di kelas. Kata-kata itu yang selalu mengajak aku untuk belajar, kata-kata itu yang selalu mengingatkanku bagaimana kecewanya peringkat turun, dan bagaimana bangganya bertahan diperingkat teratas. “Nggak mungkin anak SD bisa dengan mudah termotivasi untuk belajar hanya dengan sebaris kalimat”, mungkin kalian nggak percaya, tapi itulah yang terjadi.
Waktu kelas 1 SMP aku sudah sering membantu bapak mengetik proposal, dan di jaman itu terbilang cukup hebat seusiaku sudah bisa mengoperasikan komputer. Akhirnya karena merasa hebat mengoperasikan komputer, padahal cuma bisa ngetik dan buka file dengan klik dua kali, aku memutuskan untuk menjadi anak IT. Ketika aku meminta pendapat Mamak, beliau bilang “Kamu mau jadi apa itu keputusanmu, karena yang akan jalanin itu kamu.”, terkesan masa bodoh, tetapi inilah yang membuatku selalu bebas berimajinasi, juga bebas ingin kuarahkan kemana masa depanku. Walaupun pilihanku menjadi anak IT akhirnya salah, karena nilai dari semua mata pelajaran hanya pelajaran mengetik saja yang tinggi, tapi tidak apa-apa, karena akhirnya aku tahu bahwa, arahku salah. Dan dari arah yang salah aku belajar, tidak boleh hanya bisa, tapi harus bisa dan suka. Karena suka maka akan tekun, karena tekun maka akan hebat.
Kesimpulannya, aku sangat bangga dididik oleh ibu seperti Mamakku. Dengan sebaris ‘kalimat cuek’ beliau menumbuhkan kesadaranku, kesadaran akan tanggung jawabku sebagai pelajar. Dan dengan sebaris ‘kalimat acuh’, secara tidak langsung beliau mengarahkanku ke arah yang benar. Semakin sering aku salah arah, maka semakin dekat pula aku dengan arah yang benar.
Hanya hal sederhana, melatihku menumbuhkan kesadaran, kesadaran akan tanggung jawab, tanggung jawab akan masa depan, masa depan untuk kebahagiaan.
Hal sederhana, namun luar biasa! Dan aku percaya, ibu-ibu kalian yang latar belakang pendidikannya tidak tinggi pun punya cara yang tak kalah luar biasanya.
Salam anak Mamak!
Salam calon penulis!
Wassalamualaikum.
Minggu, 18 Maret 2018
Kicauan si Anak Rantau
Assalamualaikum
Mungkin salah satu dari kalian yang sedang baca konten ini sama sepertiku, seorang perantau. Aku berasal dari Marangkayu, salah satu kecamatan di kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim. Sekarang ini aku sedang merantau untuk kuliah di Universitas Mulawarman, jurusan Manajemen. Walaupun merantaunya nggak jauh-jauh banget, masih di provinsi yang sama, tapi tetap saja namanya merantau karena meninggalkan tempat asal. Jauh loh dari Marangkayu ke Samarinda, sekitar 75 km.
Ya, ini pembelaan! FYI, aku pernah merantau sebelumnya, di kota yang sama. Waktu itu aku memutuskan untuk melanjutkan SMA di kota, alasannya sederhana, karena dulu anak kampung sekolah di kota, itu keren. Alhasil si anak kampung yang mencoba keren ini pun minta pindah sekolah lagi di kampung karena mental ceteknya setelah bertahan satu semester.
Sekarang aku memasuki semester kedua perkuliahan, jadi aku merantau baru beberapa bulan. Sejauh ini ada banyak hal berharga yang aku dapat. Bukan hanya sekedar dapat teman baru atau almamater Universitas, tapi lebih ke kekuatan mental, pengalaman, pembelajaran hidup, lebih mengenal diri sendiri, dan sebagainya. Dan akan aku jabarkan satu per satu.
Pertama, setelah merantau aku merasa jauh lebih mandiri, mengerjakan semuanya sendiri. Contoh kecil, kalau seminggu aja nggak cuci baju, besoknya nggak ada pakaian lagi yang bisa dipake. Waktu masih tinggal sama mama, nggak perduli sama pakaian kotor, karena tau-tau besok baju udah kering aja. Kalau lagi sakit, yang dulunya dirawat dan dimanja-manjain, sekarang harus beli obat sendiri, ke puskesmas sendiri, kompres kepala sendiri, sampai sembuh sendiri. Masalah keuangan pun harus diatur, kalau dikasih uang jajan bulanan diatur sebaik munkin supaya cukup untuk satu bulan. Dulunya tau minta aja. Mau ini minta, mau itu minta, mau beli bakso minta, mau beli tas minta, sekarang mau beli cireng aja mikir, kalau beli besok bisa makan nggak yah? Jangankan cireng, dikasih hangsulan permen yang 500 perak dapat tiga aja nolak, karena minta dihangsul uang aja. Oke ini lebay.
Kedua, lebih banyak me time, karena memang banyak waktu yang aku habiskan sendirian. Bukan me time yang traveling atau jalan-jalan menghabiskan uang ya, tapi lebih ke merenung, Merenung tentang bagaimana caraku menyikapi sesuatu selama ini, bagaimana keseriusanku dalam kuliah, bagaimana kedekatanku dengan Tuhan, juga bagaimana kontribusiku untuk diri sendiri dan orang disekitarku. Intinya aku jadi sering introspeksi, lebih fokus untuk memperbaiki diri dan menata masa depan. Masalah agama juga sama, karena merasa sendiri, jauh dari orangtua, jadi merasa tidak ada tempat bergantung kecuali sama Allah SWT.
Ketiga, lebih merasa punya tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab akan impian, cita-cita, kuliah, dan keluarga. Pelan-pelan ku coba untuk melaksanakan tanggungan-tanggungan itu, meskipun masih bingung mulai dari mana. Tapi dengan melakukan hal-hal positif dan tetap optimis ku rasa awal yang baik. Walaupun ketakutan akan tidak tuntasnya semua tanggung jawab itu ada, apalagi sampai detik ini aku masih merasa belum menemukan passion, tapi justru karena ketakutan itu, timbul semangat untuk terus mencari jati diri, menyelesaikan study, mengejar impian, dan meraih cita-cita. Semakin aku takut, maka semakin besar pula semangatku. Dan aku sangat menikmati masa-masa emas ini, mungkin beberapa tahun kedepan ada banyak pembelajaran dan pengalaman lain yang akan aku dapat.
Aku yakin sedikit banyak kalian juga merasakan hal yang sama sepertiku. Walaupun sebenarnya masih banyak yang mau aku jabarkan, tapi sudah kepanjangan. Aku aja nggak yakin kalian baca sampai sini. Terakhir, pesan morilnya adalah “Ubahlah ketakutanmu menjadi semangatmu untuk menaklukkan ketakutan itu.”
Thanks
Salam anak rantau!
Salam calon penulis!
Mungkin salah satu dari kalian yang sedang baca konten ini sama sepertiku, seorang perantau. Aku berasal dari Marangkayu, salah satu kecamatan di kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim. Sekarang ini aku sedang merantau untuk kuliah di Universitas Mulawarman, jurusan Manajemen. Walaupun merantaunya nggak jauh-jauh banget, masih di provinsi yang sama, tapi tetap saja namanya merantau karena meninggalkan tempat asal. Jauh loh dari Marangkayu ke Samarinda, sekitar 75 km.
Ya, ini pembelaan! FYI, aku pernah merantau sebelumnya, di kota yang sama. Waktu itu aku memutuskan untuk melanjutkan SMA di kota, alasannya sederhana, karena dulu anak kampung sekolah di kota, itu keren. Alhasil si anak kampung yang mencoba keren ini pun minta pindah sekolah lagi di kampung karena mental ceteknya setelah bertahan satu semester.
Sekarang aku memasuki semester kedua perkuliahan, jadi aku merantau baru beberapa bulan. Sejauh ini ada banyak hal berharga yang aku dapat. Bukan hanya sekedar dapat teman baru atau almamater Universitas, tapi lebih ke kekuatan mental, pengalaman, pembelajaran hidup, lebih mengenal diri sendiri, dan sebagainya. Dan akan aku jabarkan satu per satu.
Pertama, setelah merantau aku merasa jauh lebih mandiri, mengerjakan semuanya sendiri. Contoh kecil, kalau seminggu aja nggak cuci baju, besoknya nggak ada pakaian lagi yang bisa dipake. Waktu masih tinggal sama mama, nggak perduli sama pakaian kotor, karena tau-tau besok baju udah kering aja. Kalau lagi sakit, yang dulunya dirawat dan dimanja-manjain, sekarang harus beli obat sendiri, ke puskesmas sendiri, kompres kepala sendiri, sampai sembuh sendiri. Masalah keuangan pun harus diatur, kalau dikasih uang jajan bulanan diatur sebaik munkin supaya cukup untuk satu bulan. Dulunya tau minta aja. Mau ini minta, mau itu minta, mau beli bakso minta, mau beli tas minta, sekarang mau beli cireng aja mikir, kalau beli besok bisa makan nggak yah? Jangankan cireng, dikasih hangsulan permen yang 500 perak dapat tiga aja nolak, karena minta dihangsul uang aja. Oke ini lebay.
Kedua, lebih banyak me time, karena memang banyak waktu yang aku habiskan sendirian. Bukan me time yang traveling atau jalan-jalan menghabiskan uang ya, tapi lebih ke merenung, Merenung tentang bagaimana caraku menyikapi sesuatu selama ini, bagaimana keseriusanku dalam kuliah, bagaimana kedekatanku dengan Tuhan, juga bagaimana kontribusiku untuk diri sendiri dan orang disekitarku. Intinya aku jadi sering introspeksi, lebih fokus untuk memperbaiki diri dan menata masa depan. Masalah agama juga sama, karena merasa sendiri, jauh dari orangtua, jadi merasa tidak ada tempat bergantung kecuali sama Allah SWT.
Ketiga, lebih merasa punya tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab akan impian, cita-cita, kuliah, dan keluarga. Pelan-pelan ku coba untuk melaksanakan tanggungan-tanggungan itu, meskipun masih bingung mulai dari mana. Tapi dengan melakukan hal-hal positif dan tetap optimis ku rasa awal yang baik. Walaupun ketakutan akan tidak tuntasnya semua tanggung jawab itu ada, apalagi sampai detik ini aku masih merasa belum menemukan passion, tapi justru karena ketakutan itu, timbul semangat untuk terus mencari jati diri, menyelesaikan study, mengejar impian, dan meraih cita-cita. Semakin aku takut, maka semakin besar pula semangatku. Dan aku sangat menikmati masa-masa emas ini, mungkin beberapa tahun kedepan ada banyak pembelajaran dan pengalaman lain yang akan aku dapat.
Aku yakin sedikit banyak kalian juga merasakan hal yang sama sepertiku. Walaupun sebenarnya masih banyak yang mau aku jabarkan, tapi sudah kepanjangan. Aku aja nggak yakin kalian baca sampai sini. Terakhir, pesan morilnya adalah “Ubahlah ketakutanmu menjadi semangatmu untuk menaklukkan ketakutan itu.”
Thanks
Salam anak rantau!
Salam calon penulis!
Wassalamualaikum
Jumat, 16 Maret 2018
Dulu, aku kasar!
Hari ini kali pertama aku mau mengisi konten di blog yang aku buat beberapa hari yang lalu. Entah nantinya akan ada yang baca atau nggak, tapi setidaknya kalau aku sudah punya anak bisa cerita “Nak, dulu waktu mama masih muda sering nulis blog loh”, bukan “Nak, dulu waktu mama masih muda suka stalking sosmed mantan loh, setiap hari lagi.”
Ngomong-ngomong soal stalking, beberapa hari yang lalu aku stalking akun Facebookku yang lama. Kubaca satu demi satu postingan-postingan yang dulu aku buat, setiap postingan kuusahakan mengingat apa alasan aku buat postingan semacam itu, postingan-postingan yang 98% penuh dengan keluhan, cacian, makian, kebencian, hanya “Met malam minggu all” dan “Innalillahi wainnaillahi raji’un” aja yang nggak buruk, sisanya... Jangan ditanya. Ada postingan yang mengeluh tentang makanan di rumah, ada juga postingan yang marah-marah sama teman sendiri dan yang aku ingat waktu itu karena masalah sepele, yang paling parah postingan yang ngatain orang Anj**g. Kalau aku punya anak kayak aku yang dulu, sudah ku kutuk dia. Dan yah, kalau diingat-ingat, dulu aku memang orang yang kasar, suka ngambek, keras kepala, pemarah, pendendam, tidak sopan, buruklah pokoknya. Alhamdulillah sekarang nggak begitu, sekarang jauh lebih baik. Tapi bukan berarti sekarang ini aku orang yang sempurna dan sangat baik, lemah lembut, pendiam, penyabar, ditoyor mau aja, diinjak kakinya diam aja, nggak juga. Intinya lebih baik dari yang dulu.
Yang menarik dan membuatku bingung, apa yang mengubahku? Apa karena umur yang merubahnya? Tapi kalau umur yang merubah sifat dan karakter seseorang, kenapa sampai sekarang masih saja ada orangtua yang kasar? Suka memukul anak atau istrinya? Kenapa masih banyak orang yang saling menyindir di sosial media, padahal mereka sudah berumur? Kenapa juga masih ada orang yang musuh-musuhan karena hal sepele? Kalau umur penentu berubahnya sifat seseorang, kenapa mereka masih saja “buruk”?
Setelah kutelaah, menyusuri kejadian-kejadian dimasalalu, mengingat-ingat kembali hal-hal yang pernah aku alami, akhirnya aku dapat jawabannya, dan ini garis besar dari isi blog ini. Jawabannya pengalaman pahit.
Masa-masa remajaku, tepatnya waktu SMP sampai SMA, banyak sekali pengalaman-pengalaman pahit yang kudapat, tapi nggak akan aku share disini. Dulu, hampir setiap pulang sekolah aku selalu mengurung diri di kamar, nangis, meratapi nasib, sekalipun aku ketawa-ketiwi di sekolah, tapi pas sampai rumah, masuk kamar pasti nangis. Sampai sekarang pun kalau mengingat masa-masa itu pasti nangis sangking pahitnya. Nggak nyangka anak umur belasan tahun bisa ngelewatin ujian hidup sepahit itu. Tapi, ujian itu yang sedikit merubahku. Kejadian-kejadian buruk dan masalah-masalah yang sulit terjadi bersamaan dengan perubahan sifat dan karakterku. Yang awalnya suka memberontak jadi lebih tenang meghadapi sesuatu, yang awalnya negatif thinking lebih dominan dari pada positif thinking sekarang jadi sebaliknya, juga sekarang sedikit lebih sabar, lebih sopan, sedikit lebih religious, dan lain sebagainya. Tetapi dengan hormat saya tekankan, saya tidak mengatakan saya orang yang baik, sama halnya seperti yang saya katakan sebelumnya ya, takutnya kalian cinta lagi, repot nanti. Oke balik lagi, meskipun saat itu aku masih sering mengeluh, kenapa hidupku nggak sebahagia yang lain? Nggak setentram yang lain? Tapi seiring dengan masalah-masalah yang terjadi aku jadi paham, semakin banyak masalah, semakin baik pula kita. Karena setiap masalah, selalu saja ada pembelajaran di dalamnya, yang bisa kita amalkan dalam hidup. Dan sekarang kalau ada masalah, ada sedikit rasa senang dan bangga di hati, dengan harapan dari masalah yang terjadi akan membuatku menjadi a much better person.
Terakhir, buat kalian yang baca sampai habis, nikmati ujian, cobaan, masalah kalian saat ini. Hadapi mereka dengan jiwa, raga, dan fikiran yang positif. Karena solusi dari masalahmu hanya sejauh kepala dan sajadah.
Thanks :)
Salam calon penulis!
Langganan:
Postingan (Atom)
AKU KEMBALI KARENA AKU BERANI
Assalamu’alaikum Setelah sekian lama nggak nulis diblog, akhirnya memberanikan diri untuk nulis lagi. Meskipun udah ada beberapa materi yang...
